Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 06 April 2013

Suhu Bumi Meningkat



Suhu Bumi Akan Meningkat 4 Derajat Celsius

Selasa, 19 Maret 2013

            JAKARTA, KOMPAS.com - Meski janji pengurangan emisi gas rumah kaca dari negara maju dipenuhi, suhu bumi akan meningkat lebih dari 4 derajat celsius. Tahun 2009, di Kopenhagen, Denmark, dalam Konferensi Perubahan Iklim, disepakati menahan peningkatan suhu 2 derajat Celsius.
      Hal itu dikemukakan Wakil Presiden Bank Dunia dan Kepala Jaringan Pembangunan Berkelanjutan Rachel Kyte dalam perbincangan dengan wartawan di Jakarta, Senin (18/3/2013). Kyte didampingi Spesialis Manajemen Sumber Daya Alam Timothy H Brown serta Direktur Pembangunan Berkelanjutan Wilayah Asia Timur dan Pasifik John Rome.
            Menurut Kyte, ”Sekarang kita sudah melampau batas kesepakatan.” Negara-negara miskin semakin kesulitan mengurangi kemiskinan karena dampak perubahan iklim. ”Beberapa negara bahkan mengalami kemunduran beberapa dekade ke belakang, dan jatuh miskin,” katanya.
            Hal ini disebabkan semakin tingginya intensitas, frekuensi, serta kualitas dari berbagai bencana terkait iklim. Menurut Kyte, dalam 30 tahun terakhir, kerugian akibat bencana iklim sudah tiga kali lipat.
         ”Kondisi negara-negara kepulauan kecil tak bisa dikembalikan (irreversible),” ujarnya. Mereka terkena dampak kenaikan permukaan air laut.November 2012, Bank Dunia menerbitkan laporan ilmiah tentang perubahan iklim. Laporan kedua akan terbit Mei 2013.

Menghitung kapital alam
            Terkait dengan kehutanan dan eksploitasi kekayaan alam, Kyte mengakui, sulit menghitung kapital alam berupa pohon dan mineral terpendam seperti emas. Namun, sejak tahun lalu ada metode penghitungan yang disepakati secara global. Yang belum ada, metode penghitungan jasa ekosistem. Saat ini, Bank Dunia bersama PBB dan sejumlah negara mengembangkan hal itu.
            ”Selalu butuh perimbangan antara harga yang diterima sekarang dengan membongkar kekayaan alam dan polusi yang diterima nanti,” kata Rome. ”Itu area ekonomi politik,” katanya.
            Sementara itu, tentang sistem otonomi Indonesia yang berpotensi korupsi, menurut Brown, tidak ada indikasi seperti itu. ”Sistem otonomi daerah tidak menyebabkan korupsi terkait kehutanan,” katanya. Menurut dia, ada faktor lain yang menyebabkan muncul korupsi, antara lain tidak ada sistem pemantauan yang dipercaya publik atau pemerintah tidak akuntabel.

Diunduh               : Minggu, 7 April 2013 – Pukul 12.10 WIB

Meteorit Hijau



Meteorit Hijau di Maroko Diduga dari Merkurius
Fifi Dwi Pratiwi – www.kompas.com
Kamis, 4 April 2013



           TEXAS, KOMPAS.com — Meteorit berwarna hijau yang ditemukan di Moroko pada tahun 2012 lalu diduga berasal dari Planet Merkurius. Dugaan ini muncul karena karakteristik meteorit tersebut berbeda dengan karakteristik meteorit lainnya yang jatuh ke Bumi dan mirip dengan karakteristik planet terdekat dengan Matahari dalam sistem tata surya kita itu.
            Hal tersebut disampaikan oleh Anthony Irving, profesor ilmu tentang bumi dan luar angkasa dari University of Washington, AS, dalam acara 44-th annual Lunar and Planetary Science Conference di Woodland, Texas.
            "Ini mungkin sebuah sampel yang berasal dari Merkurius atau dari benda lain yang lebih kecil dari Merkurius, tapi karakteristiknya mirip seperti Merkurius," kata Irving sebagaimana dikutip Space.com, Kamis (28/3/2013) lalu.
            Ia menambahkan, suatu tumbukan kuat telah melemparkan meteorit hijau ini ke bumi. Selain itu, meteorit ini berusia sangat tua. Irving dan timnya memperkirakan usia batu luar angkasa ini mencapai 4,56 miliar tahun.
            Dugaan Irving didasari temuan yang menunjukkan kalau meteorit yang bernama resmi NWA 7325 ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan meteorit lain yang berasal dari Mars atau asteroid yang berada di dalam sistem tata surya, yang telah ditemukan oleh para peneliti hingga saat ini.
            Meteorit yang berasal dari Mars ini disertai dengan partikel yang ada di atmosfer planet tersebut, yang membuatnya mudah untuk dikenali. Sementara batuan angkasa dari Vesta, salah satu asteroid terbesar di sistem tata surya kita, sifat kimiawinya berbeda.
            Irving menyatakan kalau NWA 7325 memiliki intensitas magnet yang lebih rendah dibandingkan batuan lain, yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Didukung oleh data yang dikirim dari wahana luar angkasa Messenger, milik NASA, orbit di sekitar Merkurius menunjukkan bahwa sifat kemagnetan yang rendah dari planet tersebut sangat mirip dengan yang ditemukan pada meteorit berwarna hijau ini.
            Hasil observasi Messenger juga memberikan Irving bukti terbaru yang bisa mendukung hipotesisnya. Salah satunya adalah karakteristik geologis dan komposisi kimia permukaan Merkurius, yang diketahui oleh para peneliti, memiliki kandungan besi yang sangat rendah. Begitu pun dengan meteorit ini yang kandungan besinya sangat rendah sehingga mengesankan dari mana pun batuan ini berasal, badan induknya mirip dengan Merkurius.
            Irving mengatakan, meteorit ini tercipta dan dan tiba-tiba terlempar dari planet atau benda langit lainnya yang memiliki aliran magma di permukaannya pada satu waktu dalam sejarah tempat tersebut. Bukti yang ada menunjukkan kalau batu tersebut terbentuk sebagai buih yang ada di bagian puncak magma tersebut.

Diunduh          : Minggu, 7 Januari 2013 – Pukul 11.46 WIB

Pencegahan Stroke


 Makan Pisang dan Kurangi Keripik Mencegah Stroke

Melly Febrida – www.liputan6.com

Jum’at , 5 April 2013

            Liputan6.com, London : Perbanyak makan pisang dan kurangi konsumsi keripik. Ini bisa mencegah Anda dari risiko kematian akibat stroke. Buah berkulit kuning yang kaya potasium (kalium) itu bisa membantu menurunkan tekanan darah, seperti halnya menurunkan konsumsi garam pada kudapan keripik. Pisang adalah salah satu makanan yang kaya kalium. Masing-masing mengandung 420 mg, dan setiap harinya orang dewasa sebaiknya mengonsumsi 3.500 mg.Sebuah penelitian membuktikan bahwa asupan kalium yang tinggi, menurunkan risiko stroke hingga 24 persen. Namun, dalam penelitian sebelumnya pernah diungkap bahwa mereka yang berusia lanjut usia riskan dengan asupan kalium karena membuat kerja mengurangi kemampuan ginjal membuang dari dalam darah. Untungnya, penelitian yang diterbitkan dalam bmj.com menyanggah kakhawatiran tersebut. Disebutkan bahwa kalium tak berpengaruh negatif bagi fungsi ginjal. Seperti dikutip Dailymail, Jumat (5/4/2013), peneliti menganalisa 128 ribu orang lebih dengan 33 uji coba dan menyebutkan, mengonsumsi lebih banyak mineral seperti pisang memberikan banyak manfaat untuk kebanyakan orang. Sekitar 53.000 kematian di Inggris setiap tahunnya terjadi akibat stroke, dengan lebih 100.000 pasien bertahan, sisanya menderita cacat berat. Dr Clare Walton dari Asosiasi Stroke mengatakan, diet yang sehat merupakan bagian penting dari pengelolaan risiko stroke. "Tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko terbesar untuk stroke dan jantung. Membuat perubahan dalam diet bisa menjaga tekanan darah terkontrol. "Penelitian menunjukkan pengurangan konsumsi garam dan penambahan makanan kaya kalium seperti pisang, kurma, bayam, bisa menghindari Anda dari risiko stroke. 

http://health.liputan6.com/read/554025/makan-pisang-dan-kurangi-keripik-mencegah-stroke 

Diunduh          : Minggu, 7 April 2013 – Pukul 11.20 WIB